Mengapa Hujan Lebat Masih Terjadi di Indonesia Saat El Nino?

Mengapa Hujan Lebat Masih Terjadi di Indonesia Saat El Nino?

Bagaimana bisa hujan deras masih mengguyur wilayah Indonesia di tengah fenomena El Niño yang berkembang? Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena ini disebabkan oleh dinamika iklim tropis yang kompleks. Indeks Niño 3.4 dilaporkan berada di angka +0,97 pada dasarian kedua Mei 2026, menunjukkan tahap menuju El Niño moderat.

El Niño tidak berfungsi seperti tombol yang ketika ditekan langsung menghentikan hujan. Perubahan yang dibawanya terjadi secara bertahap, dengan hujan ekstrem sering kali muncul pada fase transisi awal. Ocean-atmosphere coupling, atau proses interaksi antara lautan dan atmosfer, membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan hingga berbulan-bulan untuk benar-benar mengubah pola sirkulasi angin global dan mengeringkan Indonesia.

Penyebab utama mengapa hujan deras masih terjadi adalah kondisi perairan lokal yang masih tetap hangat, terutama di sejumlah wilayah seperti Sulawesi Tengah. Selama perairan seperti Laut Sulawesi, Selat Makassar, Teluk Tomini, dan Laut Maluku mempertahankan kehangatannya, tingkat penguapan lokal tetap tinggi dan menjadi bahan bakar untuk pembentukan awan konvektif tebal jenis Cumulonimbus yang menghasilkan hujan ekstrem dan badai petir.

Efek El Niño berbeda-beda antar daerah, di Donggala dan Sigi, pengaruh lokal Teluk Palu dan konveksi pegunungan menyebabkan hujan lebat masih terjadi. Namun, diperkirakan tren defisit hujan akan menguat mulai bulan Juni mendatang. Sementara itu, di Parigi Moutong dan Banggai, pola kering mulai terasa meskipun hujan ekstrem masih kadang muncul. Adapun untuk daerah lain seperti Poso dan Tojo Una-Una, hujan lokal dipengaruhi oleh topografi pegunungan, tetapi debit sungai diperkirakan menurun tajam pada bulan Agustus dan September.

Di Tolitoli dan Buol, wilayah ini relatif lebih basah akibat pengaruh monsun barat, namun risiko kekeringan masih mengintai jika El Niño berlanjut hingga akhir tahun. BMKG mewanti-wanti agar masyarakat menyiapkan "kewaspadaan ganda", yakni siap menghadapi banjir dalam jangka pendek dan menabung air untuk mengantisipasi kekeringan di bulan-bulan selanjutnya. Saran ini termasuk memaksimalkan penampungan air di embung, waduk, dan danau seperti Danau Poso dan Danau Lindu.

Panjang Trans Sulawesi, terutama jalan Kebun Kopi yang menghubungkan Palu dengan Parigi Moutong, rentan longsor saat hujan lebat sehingga perlu diwaspadai. Dalam jangka panjang, daerah lumbung pangan seperti Kabupaten Sigi dan Parigi Moutong disarankan beralih menanam palawija seperti jagung, kedelai, dan umbi-umbian yang lebih tahan kering.

Indeks Niño 3.4 yang positif adalah pertanda bahwa akumulasi hujan bulanan ke depan akan berada di bawah tingkat normal. Namun, hal ini tidak menghilangkan potensi cuaca ekstrem harian, seperti badai lokal, hujan lebat berdurasi singkat, dan banjir bandang, yang tetap menjadi ancaman nyata.