Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi memberikan arahan bagi jemaah haji tahun 2026 untuk menghindari aktivitas di luar ruangan antara pukul 10.00 hingga 16.00 waktu setempat. Arahan ini disampaikan melalui situs resmi HIMPUH sebagai respons atas ancaman temperatur ekstrem yang diproyeksikan mencapai 47 derajat Celsius pada puncak musim haji.
Imbauan tersebut diberikan di tengah berlangsungnya fase utama ibadah haji, termasuk wukuf di Arafah yang berlangsung hari ini, Selasa (26/5). Dengan meningkatnya suhu, risiko terkena kelelahan panas dan heatstroke di kalangan jemaah haji semakin tinggi akibat paparan suhu ekstem tersebut.
Kementerian meminta jemaah untuk tetap berada di dalam tenda atau akomodasi selama periode cuaca ekstrem. Mereka juga disarankan untuk beristirahat, menjauhi aktivitas di luar saat suhu memuncak, dan melaksanakan salat di masjid terdekat dari penginapan.
Jemaah pun diimbau untuk tidak memaksakan berjalan kaki jika cuaca dirasa terlalu menyulitkan fisik. Gejala seperti pusing, peningkatan suhu tubuh, sakit kepala, atau pandangan kabur harus segera ditangani dengan menghubungi layanan darurat 911.
Sementara itu, otoritas kesehatan Saudi menyatakan telah merawat 144 jemaah yang mengalami heatstroke di tengah berlangsungnya ibadah haji. Untuk menghadapi kemungkinan lonjakan kasus kesehatan, Arab Saudi telah menyiapkan lebih dari 50 ribu tenaga medis serta 3 ribu ambulans di lokasi-lokasi sakral.
Cuaca ekstrem selama musim haji menunjukkan suhu berkisar antara 44 hingga 47 derajat Celsius pada puncak wukuf di Arafah. Selain suhu panas, kecepatan angin antara 15 hingga 40 kilometer per jam diperkirakan terjadi pada siang hari, yang bisa membawa debu dan pasir serta meningkatkan risiko bagi jemaah dengan masalah pernapasan.
Kondisi cuaca yang penuh tantangan ini membebani pelaksanaan ritual haji tahun ini, di tengah arus jutaan jemaah yang menjalankan ibadah di ruang terbuka.