Kemendikdasmen Jelaskan Alasan Penumpukan Guru Honorer: Rekrutmen ASN Sedikit

Kemendikdasmen Jelaskan Alasan Penumpukan Guru Honorer: Rekrutmen ASN Sedikit

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengungkapkan faktor utama peningkatan jumlah guru honorer adalah terbatasnya rekrutmen guru berstatus ASN. Wamendikdasmen, Atip Latipulhayat, menjelaskan bahwa proses rekrutmen guru ASN yang sangat minim menjadi alasannya.

Menurut Atip, dari tahun 2006 hingga 2008, terdapat perekrutan besar-besaran untuk guru ASN, namun jumlah ini turun drastis dari tahun 2008 hingga 2012. Pada periode 2013-2014, rekrutmen sempat kembali dilakukan, tetapi kembali mengalami penurunan yang signifikan pada 2014 hingga 2016, sebelum sedikit stabil hingga 2018 dan kembali menurun setelah itu.

Pada diskusi Fraksi Golkar MPR RI di Bintaro, Atip mengatakan bahwa kondisi ini menyebabkan peningkatan jumlah guru non-ASN. Kemendikdasmen menyiapkan beberapa langkah antisipatif jangka pendek untuk menanggulangi permasalahan ini, salah satunya dengan menyusun restrukturisasi kewenangan dalam pengelolaan guru.

Usulan Kemendikdasmen

Atip mengemukakan beberapa usulan, di antaranya perencanaan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan secara bersama antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah pusat bertugas mengendalikan formasi dan distribusi guru melalui Ruang Talenta Guru, sementara distribusi pendidik non-guru diatur pemerintah daerah.

Sedangkan pengangkatan guru dan tenaga kependidikan lainnya dilakukan oleh pemerintah pusat, termasuk pembinaan karier, pengembangan profesi, serta penilaian kinerja dilakukan secara kolaboratif oleh pemerintah pusat dan daerah sesuai kewenangan masing-masing.

"Lima poin ini kami ajukan sebagai rencana besar yang telah kami rumuskan dalam rancangan perubahan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional," jelas Atip. Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, turut menambahkan bahwa jumlah guru yang pensiun setiap tahunnya tidak diimbangi dengan rekrutmen baru yang cukup.

Nunuk memaparkan bahwa setiap tahun sekitar 70 ribu guru pensiun sementara rekrutmen guru baru hanya mencapai kurang dari 50 persen dari jumlah tersebut. "Ini menyebabkan kevakuman yang kemudian diisi oleh guru honorer, karena sekolah juga membutuhkan guru. Situasi ini mendorong sekolah merekrut guru honorer," terangnya.