Risiko Kebocoran Data Pribadi: Rekening Terkuras dan Identitas Disalahgunakan untuk Pinjaman Online

Risiko Kebocoran Data Pribadi: Rekening Terkuras dan Identitas Disalahgunakan untuk Pinjaman Online

Dalam era digital saat ini, data pribadi menjadi sasaran empuk bagi para penjahat siber yang memanfaatkan celah keamanan untuk kepentingan mereka. CNN Indonesia melaporkan bahaya ini pada Minggu, 24 Mei 2026, mengungkapkan bagaimana data pribadi bisa disalahgunakan untuk tujuan penipuan dan menguras rekening hingga identitas dipakai dalam pinjaman online (pinjol).

Data pribadi bisa dijangkau oleh pelaku kejahatan digital melalui berbagai metode, seperti penyebaran malware, aktivitas peretasan, atau pembelian data curian di forum daring. Informasi yang bocor ini, termasuk nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, serta alamat, membuka jalan bagi kriminal siber untuk melakukan aksi mereka dengan lebih efektif.

Scam dan Phishing

Para penipu siber dapat memanfaatkan data pribadi untuk melakukan rekayasa sosial atau mengirim pesan scam dan phishing. Ketika data yang dimiliki lengkap, mereka dapat membobol akun media sosial dan aplikasi chatting, meningkatkan kemungkinan suksesnya aksi penipuan. Biasanya, modus ini menargetkan keluarga dan kerabat korban dengan berpura-pura dalam kondisi darurat, mengarahkan mereka untuk mengirimkan uang kepada pelaku.

Risiko menjadi lebih besar jika pembobolan terjadi pada akun perbankan, di mana penipu dapat menguras habis saldo rekening korbannya. Perlu kewaspadaan ekstra terhadap aplikasi populer yang mungkin disusupi malware, karena data pribadi bisa dicuri tanpa disadari.

Akun Pinjol

Data pribadi juga berpotensi disalahgunakan untuk melakukan pengajuan pinjaman di aplikasi pinjol. Hal ini mengakibatkan pemilik identitas harus menanggung utang yang tidak mereka buat. Insiden semacam ini pernah terjadi di Garut, Jawa Barat pada tahun 2023, di mana 407 warga dilaporkan identitasnya dicatut untuk melakukan utang melalui platform pinjol.

Setelah dilakukan penyelidikan, dicurigai bahwa seorang Ketua Kelompok PNM Mekaar di desa itu merupakan otak di balik kasus pemalsuan identitas ini. Jumlah warga yang terlibat membuat kasus ini menjadi perhatian yang mendalam bagi masyarakat setempat.

Pembobolan Akun

Di tengah kemajuan teknologi AI, pembobolan akun menjadi semakin canggih. Melalui tren foto selfie dengan pose jari berbentuk huruf "V", yang sebenarnya menyimbolkan perdamaian, ternyata bisa menimbulkan risiko pencurian data sidik jari. Teknologi AI dapat mengekstrak sidik jari dari foto yang diunggah ke internet, seperti yang diperingatkan oleh pakar keamanan siber China, Li Chang.

Menurut penelitian, bahkan foto yang diambil dari jarak 1,5 hingga 3 meter masih dapat menunjukkan setidaknya setengah dari detail sidik jari. Pada 2025, sekelompok penjahat di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China, mencoba menggunakan foto tangan yang diunggah ke dunia maya untuk membuka kunci pintar rumah, menggambarkan risiko nyata dari penyalahgunaan teknologi ini.