Super El Nino 2026 Berpotensi Lebih Dahsyat dari 1997, Dunia Harus Siaga

Super El Nino 2026 Berpotensi Lebih Dahsyat dari 1997, Dunia Harus Siaga

Teknologi menuju Super El Nino pada tahun 2026 berpotensi lebih parah daripada yang terjadi tahun 1997, sehingga dunia harus waspada secara global. El Nino dapat mempengaruhi kehidupan global dan ekosistem serta membawa risiko ekonomi dan bencana yang berlangsung selama beberapa dekade.

Jakarta, CNN Indonesia -- Fenomena El Nino yang sedang berkembang kali ini memiliki potensi berubah menjadi Super El Nino, yang dapat mempengaruhi kehidupan ratusan juta orang di seluruh dunia. El Nino adalah fenomena cuaca alami di Samudra Pasifik yang diidentifikasi dengan suhu permukaan laut yang lebih tinggi dari rata-rata di dekat garis khatulistiwa.

Kondisi ini menyebabkan perubahan sirkulasi udara di atmosfer yang efeknya tidak hanya terbatas di kawasan Pasifik, tetapi berdampak pada pola cuaca dan iklim di seluruh dunia. Dalam skenario Super El Nino, efek-efek ini diperkirakan akan meningkat secara signifikan. Beberapa model komputer menunjukkan bahwa El Nino yang sekarang berkembang dapat melebihi intensitas kejadian-kejadian sebelumnya sejak tahun 1950, termasuk El Nino besar tahun 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016.

Namun, tingkat kepastian tentang intensitas tersebut masih rendah dan kekuatan puncaknya baru akan jelas saat fenomena itu benar-benar terjadi. Dikutip dari CNN pada Jumat (22/5), ada empat pelajaran utama dari kejadian-kejadian El Nino sebelumnya yang dapat digunakan sebagai acuan untuk memahami potensi dampak kali ini. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 2023 menemukan bahwa El Nino dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi suatu negara selama beberapa tahun setelah perairan Pasifik kembali normal suhu.

Para peneliti memperkirakan kerugian pendapatan global akibat El Nino 1982-1983 mencapai sekitar US$4,1 triliun. Sementara itu, El Nino 1997-1998 yang dijuluki sebagai "El Nino Abad Ini" menimbulkan kerugian sebesar US$5,7 triliun, dengan dampak kerugian yang berlangsung selama lima tahun selama dan setelah kejadian tersebut. El Nino yang saat ini berkembang diperkirakan memiliki intensitas yang serupa dengan kejadian pada tahun 1997-1998.

Ketika Super El Nino terjadi, ada kecenderungan untuk menghubungkan setiap bencana cuaca dengan fenomena tersebut. Namun, El Nino tidak secara langsung memicu sistem cuaca individu, tetapi lebih berperan sebagai pengubah probabilitas, meningkatkan atau menurunkan kemungkinan kondisi tertentu terjadi pada waktu tertentu dalam setahun. Banyak peristiwa cuaca ekstrem yang berlangsung tanpa kaitan langsung dengan El Nino tetap dapat terjadi secara acak.

Contohnya, El Nino cenderung mengurangi aktivitas badai di Atlantik sambil meningkatkan aktivitas topan di Pasifik Barat dan Timur, pergeseran yang dapat memiliki dampak besar bagi negara-negara di kawasan tersebut. Kemampuan untuk memprediksi El Nino jauh sebelum dampak terburuknya datang menjadi salah satu keuntungan era modern dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Sejak awal 1980-an, akurasi prakiraan El Nino terus meningkat, memungkinkan persiapan yang lebih baik dari pemerintah, kelompok kemanusiaan, perusahaan, dan petani.

Lembaga seperti Palang Merah dan Bulan Sabit Merah sudah mulai menempatkan cadangan pangan di daerah-daerah yang rentan terhadap kekeringan terkait El Nino. Namun, komunitas yang paling rentan di negara berkembang sering kali belum memiliki akses informasi yang memadai. El Nino tahun ini terjadi di dunia yang jauh lebih hangat dibandingkan saat El Nino besar sebelumnya, menjadikannya sebagai peristiwa yang tidak dapat diprediksi hanya berdasarkan pengalaman masa lalu.

Menurut Nathan Lenssen, ilmuwan dari NSF National Center for Atmospheric Research, perubahan iklim saat ini membuat pengalaman El Nino di masa lalu kurang informatif untuk kejadian saat ini. Satu kesulitan lainnya adalah pengurangan drastis bantuan luar negeri Amerika Serikat dan pembubaran USAID di bawah pemerintahan Trump, yang berpotensi memperburuk persiapan. El Nino secara historis menyebabkan kekeringan dan kelaparan di seluruh belahan dunia selatan.

USAID telah menjadi elemen kunci dalam mendukung populasi yang terdampak sebelum, selama, dan setelah bencana kelaparan yang dipicu oleh perubahan iklim, kata Lenssen.