Jakarta, CNN Indonesia -- Pemeriksaan tekanan darah yang dilakukan di rumah dapat memberikan hasil berbeda dengan di klinik. Perbedaan ini sering kali membingungkan banyak orang ketika menemui perbedaan angka tensi meskipun pengukuran dilakukan dalam rentang waktu yang berdekatan. Ketua Indonesian Society of Hypertension (INASH), dokter spesialis saraf Eka Harmeiwati, menjelaskan bahwa pengukuran tekanan darah dipengaruhi oleh beragam faktor, seperti kondisi tubuh, posisi tubuh saat pemeriksaan, dan faktor psikologis.
Menurut Eka, batasan tekanan darah normal di rumah berbeda jika dibandingkan dengan di fasilitas kesehatan seperti klinik atau rumah sakit. "Untuk di rumah, angka normal adalah 135/85, berbeda dengan 140/90 yang digunakan di klinik," ujar Eka pada acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan, Rabu (20/5). Dia menjelaskan, tekanan darah di klinik cenderung lebih tinggi karena beberapa orang merasa cemas ketika bertemu tenaga kesehatan, yang dikenal sebagai white coat hypertension atau hipertensi jas putih.
Perbedaan Kondisi dan Rekomendasi Pengukuran
Eka juga memperingatkan tentang masked hypertension atau hipertensi terselubung, yang terjadi ketika tekanan darah tampak normal di klinik tetapi tinggi saat diukur di rumah. "Kalau di periksa oleh dokter, tensinya bisa normal, sementara di rumah justru tinggi, sehingga tidak terdeteksi," jelasnya. Oleh karena itu, ia mendorong masyarakat untuk mulai rutin mengukur tekanan darah secara mandiri di rumah, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi seperti penderita obesitas, stres, dan kebiasaan merokok.
Namun, dia menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan tekanan darah di rumah dengan metode yang tepat. Posisi tubuh yang salah dapat membuat hasil pengukuran tidak akurat. "Jika tidak bersandar, tensi bisa naik 10 hingga 15," ungkap Eka. Dia juga menambahkan bahwa berbicara selama pengukuran dapat memengaruhi hasilnya. "Tidak boleh berbicara, karena bisa menyebabkan kenaikan 10 hingga 20," tegasnya.
Faktor yang Mempengaruhi Hasil Pengukuran
Eka menambahkan bahwa beberapa kondisi juga perlu menjadi perhatian sebelum pemeriksaan tekanan darah karena dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, antara lain: kemarahan, stres, olahraga baru dilakukan, setelah makan, serta konsumsi obat-obatan tertentu. Eka menyarankan pemeriksaan tekanan darah ideal dilakukan dua hingga tiga kali karena pengukuran pertama umumnya lebih tinggi.
Monitoring rutin tekanan darah sangat penting dilakukan mengingat hipertensi sering tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Jika dibiarkan, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol meningkatkan risiko penyakit seperti stroke, gagal jantung, serta gagal ginjal.