Anak di China Memelihara Ulat Sutra untuk Membuat Selimut

Anak di China Memelihara Ulat Sutra untuk Membuat Selimut

Di China, seorang anak berusia enam tahun berinisiatif memelihara ulat sutra dengan tujuan membuat selimut sutranya sendiri. Demi mendukung keinginan sang anak, orang tuanya membeli 10 ribu telur ulat sutra.

Ruan, sang ibu, mengungkapkan kepada media lokal Chengshi Interactive bahwa ide tersebut muncul saat musim pemeliharaan ulat sutra dimulai. Biasanya, musim pemeliharaan berlangsung optimal antara Mei hingga Oktober.

Keluarga Ruan sudah akrab dengan kegiatan memelihara ulat sutra setiap tahun, dan ide ini diterima dengan antusias oleh Ruan serta suaminya. Sebanyak 10 ribu telur dibeli secara daring seharga 30 yuan, atau sekitar Rp 78 ribu, lengkap dengan perlengkapan seperti kotak inkubasi, daun murbei, dan panduan perawatan.

Perjuangan Keluarga

Telur-telur baru ini dikombinasikan dengan telur dari tahun sebelumnya, menghasilkan sekitar 12 ribu larva ulat sutra. Mereka harus menyiapkan tempat untuk membesarkan ulat-ulat tersebut, sehingga dibuatlah rak bertingkat dari kotak kardus dan pipa besi di ruang tamu dengan tinggi sekitar 1,2 meter.

Menurut Ruan, memelihara ulat sutra cukup menantang, salah satunya adalah mencari daun murbei yang cukup sebagai makanan. Setiap hari setelah mengantar anak ke sekolah, dia berburu daun murbei, dan dalam sehari, ulat sutra bisa mengkonsumsi hingga 20 kg daun yang sudah dikeringkan.

Sang anak juga turut serta dalam proses perawatan dengan memberi makan, membersihkan kotoran, dan menghitung jumlah kepompong yang terus bertambah sepulang sekolah. Ulat sutra biasanya membutuhkan waktu antara 20 hingga 28 hari untuk berkembang menjadi larva pembuat kepompong.

Harapan dari Proses Pemeliharaan

Pada 18 Mei, lebih dari 5 ribu kepompong sudah terbentuk, dan satu kepompong bisa menghasilkan benang sutra sepanjang 800-1.500 meter. Menurut Ruan, sekitar 2.200 kepompong diperlukan untuk membuat satu selimut bayi, sedangkan 12 ribu kepompong dapat menghasilkan selimut berukuran penuh.

Proses pembuatan selimut juga dipelajari oleh sang anak, meskipun di bawah bimbingan ayahnya. Sebelum diproses dengan mesin, kepompong direbus untuk menghilangkan pupa dan serisin, protein alami pada kepompong.

Ruan berharap proses ini tidak hanya menghasilkan selimut tetapi juga memberikan pengalaman berharga bagi putranya, yang setiap hari merawat ulat dengan sukacita. Dia menekankan pentingnya tanggung jawab dan kegembiraan merawat makhluk hidup, yang lebih berharga daripada mainan apa pun.