PT Xacti Indonesia menutup pabriknya di Depok, Jawa Barat, dan mengadakan pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk 350 karyawan. Kabar mengenai penutupan pabrik dan pemutusan kerja ini disampaikan oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Presiden Partai Buruh, Said Iqbal.
Perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai PT Sanyo Group ini bergerak di bidang manufaktur elektronik, khususnya dalam memproduksi perangkat digital, terutama perangkat digital imaging. Said Iqbal menyatakan bahwa penutupan dan PHK ini disebabkan oleh ketidakpastian kondisi global dan nasional, yang membuat perusahaan tidak dapat melanjutkan operasionalnya.
Alasan Penutupan
Menurut Said Iqbal, sejumlah faktor termasuk ketidakpastian akibat perang antara Iran dan agresi Amerika Serikat serta Israel menjadi salah satu penyebab penutupan Xacti Indonesia. Ia mengungkapkan informasi mengenai penutupan ini diperoleh dari anggota serikat pekerja yang telah mendapatkan peringatan awal dari perusahaan.
PT Xacti Indonesia adalah anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), yang merupakan bagian dari KSPI. Namun, selama dua bulan terakhir, Xacti Indonesia tidak aktif dalam keanggotaan tersebut karena tengah mempersiapkan penutupan permanen. Selain itu, dampak perang meningkatkan biaya bahan baku, bahan bakar, dan produksi perusahaan.
Dampak Ekonomi
Said Iqbal menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat ketidakpastian global memaksa perusahaan untuk melakukan efisiensi energi. Sebagai contoh, Xacti Indonesia menggunakan BBM non-subsidi untuk operasional pabrik, sehingga kenaikan harga membuat perusahaan semakin sulit bertahan.
Lesunya pasar global juga berdampak pada produk ekspor perusahaan, terutama kamera yang diproduksi. Ketidakpastian ekonomi dalam negeri, seperti pelemahan nilai tukar rupiah, turut menambah beban bagi Xacti Indonesia, meningkatkan biaya produksi karena pembelian bahan baku impor dilakukan dalam dolar AS.